Facebook  Twitter  Google+ Instagram

MUQODDIMAH KAJIAN TASAWWUF

.



الحمد لله الواحد القهار  ،  مكور الليل علي النهار  ، تذكرة لأولي القلوب و الأبصار ، و تبصرة لذوي الألباب و الاعتبار  .  والصلاة و السلام علي سيدنا محمد المختار و آله الأطهار   و أصحابه الأخيار  و من تبعهم بإحسان إلي يوم المحشر  .
أما بعد :     

"Bahas Tasawwuf...  nggak ah...  Tasawwuf kan identik dengan syirik...  tasawwuf kan
kotor, dekil...  tasawwuf kan main-main jin ...  tasawwuf kan miskin... tasawwuf kan nyanyi - nyanyi dan menari - nari doang ...   tasawwuf kan malas ... tasawwuf kan suka
yang aneh - aneh ..." .
     
Kira - kira demikian komentar sebagian orang awam terhadap apa yang diistilahkan oleh para ulama dengan sebutan  "Tasawwuf". Bahkan yang lebih parah lagi, seorang  "ustadz"  dari kelompok wahabi - salafi, yang bernama "yazid", memasukkan  "kaum sufi"  kedalam kategori  "firqoh sesat - menyesatkan" ...
إنا لله و إنا إليه راجعون
     
Inilah satu musibah ketika umat telah jauh dari Ulamanya. Sebagaimana dalam satu hadits  Nabi Muhammad SAW  yang diriwayatkan oleh  Al - Imam  Al - Bukhori:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ  :
  "  إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا
 اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فضلوا و أضلوا  " .

Dari Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash berkata : aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda 

" Sesungguhnya ALLOH tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi ALLOH mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama . Hingga apabila sudah tidak tersisa lagi ulama , maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka (para pemimpin yang bodoh) ditanya (tentang suatu masalah) mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan ". ( Shohih  Al - Bukhori  : 98 ).

Untuk itu jika anda ingin mengetahui syariat dengan baik, dengarlah dari lisan para ahlinya  (Ulama) yang memiliki kredibilitas dalam mengeluarkan fatwa dan diakui oleh mayoritas Ulama - ulama besar dunia, bukan dari lisan pendengki, yang kotor bathinnya, yang picik pemikirannya.

Sebab Tasawwuf itu sendiri tak lain dan tak bukan adalah suatu implementasi dari apa yang disebut  "Ihsan" oleh Syariat. (insya  ALLOH  di bab awal nanti, kita akan bahas masalah arti dan definisi tasawwuf, dalil - dalil tasawwuf , hakekat tasawwuf  dan ajaran tasawwuf ).
 
Walhasil tasawwuf bukan kemusyrikan, bukan penyembah kuburan.... !!! Konsep  "Hulul" (suatu kepercayaan yang menyatakan bahwa Dzat ALLOH menempati makhluq - NYA) dan juga "Ittihad" (Dzat ALLOH bersatu dengan makhluq), yang dinisbahkan kepada  Al - Imam  Ibnu 'Arobi  (Imam besar tasawwuf) adalah suatu omong kosong, fitnah dari para pendengki dan penjahat. Karna sama saja anda mengatakan :  " Tukang bengkel nggak tau obeng ...  dokter ahli bedah nggak ngerti suntik ... " .  

Karna bagaimana mungkin para WaliyyuLLOH  tidak mengerti masalah aqidah . Padahal mereka para WaliyyuLLOH adalah orang yang mendalam ilmu syariatnya, baik akhlaqnya, suci bathinnya, istiqomah ibadahnya. 

Tasawwuf identik dengan kotor...  ? dekil...  ?  Tidak !!! Dalam Al - Quran dan As - Sunnah ada perintah mandi, wudhu, bersihkan baju, berhias, siwak, memakai wewangian. Karna perintah tersebut datang dari  ALLOH dan Rosul - NYA, maka merekalah ahli sufi (pengamal tasawwuf) adalah orang yang pertama - tama mengamalkannya. Jadi kalo ente bertemu dengan seorang ulama sholih yang bajunya lusuh (tapi masih layak dipakai), itu bukan karna beliau demen lusuh, tapi pakaiannya yang bagus - bagus, telah beliau hadiahkan pada orang lain yang membutuhkan. 

Ente buka kisah  Al - Imam Malik bin Anas RH (guru dari imam kita, Al - Imam  Asy - Syafi'i  RH) beliau adalah  seorang WaliyyuLLOH, tapi kebiasaan beliau adalah berpakaian yang indah - indah , untuk mengungkapkan rasa syukur dari apa yang  ALLOH SWT karuniakan . Masalah sedekahnya  ...? Jangan ditanya... Beliau adalah ahli sedekah, bahkan kepada muridnya sendiri, yakni  Al - Imam Asy - Syafi'i, ketika hendak pulang selesai menuntut ilmu dengannya, dihadiahkan sekantung uang. Jadi...  Tasawwuf itu tidak identik dengan lusuh, dekil atau kumel. Karna boleh jadi yang lusuh itu justru seorang yang memang nggak bisa rapih, nggak bisa bersih, tapi dia jadikan tasawwuf sebagai alasan keburukannya. 

Tasawwuf main - main jin... ? Inilah masalah yang kurang difahami orang banyak saat ini . Menganggap yang aneh - aneh itu HEBAT... Untuk itu ada seorang Ulama besar berdialog dengan seorang awam syariat  :

  • Fulan  : Ya  Syaikh  ...  si Anu  bisa terbang  ... (dia menyangka bahwa kemampuan terbang diudara  adalah  hal yang luarbiasa ). 
  • Syaikh : Burung juga  bisa ... 
  • Fulan  : . . . ???  ...  Ya Syaikh, si Anu juga bisa jalan diatas air  ... 
  • Syaikh : Ikan  bisa ...
  • Fulan  :  . . . ???   Tapi ya  Syaikh   ... dia juga bisa pindah dari timurke barat dalam sekejap  !! 
  • Syaikh : Iblis  bisa  ...!!! 
  • Fulan   : Kalau begitu ya  Syaikh ...  siapa orang yang anda anggap "hebat"  ...  ? 
  • Syaikh : Yang hebat  ...  seseorang yang walaupun zhohirnyaterlihat  bersama makhluq, tapi bathinnya  senantiasa "bersama  ALLOH SWT"
Jadi, keanehan itu tidak identik dengan tasawwuf. Karna bila yang dilihat hanya segi yang  " aneh- aneh " saja, maka tak bedanya kita dengan kaum Bani Israil yang ingkar  (karna ada pula dari Bani Israil yang mulia, yakni para Rosul dan Nabinya, para Walinya dan orang - orang sholehnya, karna Bani Israil itu adalah nama kaum / bangsa, bukan nama agama) , juga tak bedanya kita dengan kaum  'Aad, Tsamud  ...

Tasawwuf mengajarkan " malas " ... ?  Tidak !!! Karna "Ihsan" itu sendiri membangkitkan hati, fikiran dan jasad seorang hamba untuk beramal bagi hari akhiratnya. Jadi bila anda mendapati seorang yang malas bekerja, tidur disepanjang siangnya, menelantarkan anak dan istrinya dengan alasan karna mengantuk tersebab wirid disepanjang malamnya ... yakinlah ...  ia bukan  sufi ...  tapi  pemalas  !!!

Tasawwuf  suka nyanyi - nyanyi ...  ? Ada benarnya ... tapi jangan kaitkan sufi dengan nyanyian. Memang ... sebagian kaum sufi menyanyi untuk berhibur dari kepenatan. Tapi ingat ... !  Berhibur itu ibarat obat, dosisnya jangan terlalu banyak. Jadi bila ente bertemu dengan seorang yang nyanyi melulu sepanjang hari ...  sholat wajib suka telat,  baca  Al - Quran jarang, wirid nggak doyan....  maka yakinlah... ia bukan ingin menjadi sufi, tapi ingin jadi artis penyanyi  !!!

Nyanyian yang dilantunkan sebagian sufi adalah nyanyian yang berisikan pujian kepada  ALLOH dan Rosul - NYA, juga bertemakan untaian doa, pengharapan, permohonan kepada ALLOH  SWT, nyanyian yang yang membangkitkan jiwa untuk membela agama, membela tanah air dan kebenaran, nyanyian yang membangkitkan semangat dihati. Anda harus bedakan dengan nyanyian orang - orang fasik, karna nyanyian mereka justru membuat hati menjadi lalai dari mengingat ALLOH  SWT.

Maka bilamana jiwa kita tidak bangkit untuk melakukan amalan, padahal kita sudah ikut perayaan maulid dimana - mana, boleh jadi hal tersebut karena hati dan jiwa kita hanya sebatas menikmati nada bait - bait rawi yang dibacakan hanya sebatas menikmati pukulan rebana yang ditabuhkan tapi tidak menyelami isi dan makna rawi maulid tersebut. Atau sekurangnya meyakini dengan hati akan pujian kepada ALLOH dan Rosul - NYA. Sehingga segarlah jiwa ...  bangkitlah hati ... dan bersemangatlah diri. Sebab sebagaimana yang dikatakan seorang Ulama  : "Berhibur tidaklah salah ...  yang salah adalah bila kita salah dalam memilih hiburan". Artinya, carilah hiburan yang justru mendekatkan diri kita kepada ALLOH SWT.

Demikianlah muqoddimah ini penulis sampaikan semoga risalah kecil ini ada bermanfaat untuk kita semua. Semoga menjadi amal yang mengalir bagi penulis bilamana penulis telah masuk dalam alam kubur. Dan tak lupa penulis mengharapkan koreksi dari para pembaca, Mu'allim, para Guru, para Ustadz, cerdik cendikia yang dengannya akan penulis lakukan ralat sesuai dengan kebenaran yang kita ketahui bersama. Karna segala yang sesuai dengan  Al - Quran dan As-Sunnah adalah dari ALLOH SWT dan sesuatu yang buruk itu dari penulis, karna penulis hanyalah seorang hamba yang  dho'if, yang penuh dengan segala kekurangan, hanya ALLOH  lah  Dzat  YANG MEMILIKI SEGALA KESEMPURNAAN, KEAGUNGAN DAN KEMULIAAN.

إن أريد إلا الإصلاح ما استطعت و ما توفيقي إلا بالله عليه توكلت و إليه أنيب
 و صلي الله علي سيدنا محمد و علي آله و أصحابه و سلم و الحمد لله رب العالمين

Komentar

Postingan Populer